09 Januari 2009

KAU

Kau seperti impian. Tiap kali melihatmu, aku hanya membisu. Kau terlalu tinggi. Kupanjat menara pun tetap tak tersentuh. Mungkin aku harus terbang untuk meraihmu. Namun aku tak punya sayap. Bahkan pungguk yang bersayap pun tak mampu meraih bulan. Satu-satunya cara hanyalah memandangmu, seperti pungguk yang selalu menatap bulan sambil terus merindukannya.

Aku ingat saat pertama melihatmu. Kau sangat manis. Mungil, seperti kuncup bunga. Kau berlari mengitari taman. Mengejar kupu-kupu diantara bunga. Menangkap belalang yang berloncatan di rerumputan. Dan kau tersenyum tatkala berhasil menyentuhnya. Kau sangat menikmati petualanganmu saat itu. Lalu kau mulai lelah. Kembali ke pangkuan ibu dan bermanja di sana. Tapi itu tidak lama. Angin sepoi-sepoi membuatmu mengantuk. Kau pun terlelap. Menatap wajahmu, entah mengapa, aku jadi iri pada ibumu. Aku juga ingin mendekapmu. Merasakanmu dalam pelukanku. Apa itu aneh ? Aku mulai berpikir, apa arti keinginan itu. Belum kutemukan jawabannya. Tetapi mungkin saja sudah. Hanya aku terlalu takut untuk mengakui kalau ada perasaan indah di sana.

Aku suka senyummu. Tawamu yang ceria. Dan gayamu yang spontan. Kau bergerak laksana angin. Menyejukkan siapa pun yang melihatmu. Tapi aku paling suka matamu. Bulat dan bening. Mata yang polos. Innocent. Seperti sebuah kanvas yang belum ternoda. Pernah aku berpikir, apa yang akan kau lukis di atas kanvas lewat matamu ? Apakah di sana akan ada aku ? Meskipun hanya angan-angan, bolehkah aku berharap begitu ?

Melihatmu tumbuh dewasa membuat aku mengerti semua yang kurasakan selama ini. Ya. Aku telah jatuh cinta. Bukan karena kau cantik. Ada banyak wanita yang lebih cantik darimu di luar sana. Auramulah yang membuatmu terlihat cantik. Sungguh, bagiku kaulah yang tercantik. Tetapi aku lupa satu hal. Bukan aku satu-satunya penghuni bumi ini. Kecantikanmu telah membuat kumbang lain datang padamu. Tidak hanya sekali dua kali. Mereka berebut mendekati dan berusaha menjadi pemenang. Aroma manis madumu yang hanya satu-satunya di dunia membuat mereka betah berlama-lama. Dan aku hanya bisa menyaksikanmu memilih belahan hatimu. Sampai suatu hari, aku tahu kau tidak lagi sendiri.

Aku tahu aku akan patah hati. Tapi tak kusangka begini sakit rasanya. Kenapa aku harus bertemu dirimu ? Kenapa harus jatuh cinta padamu ? Kenapa bukan aku yang kau pilih ? Kenapa aku tidak bisa memilikimu ? Belakangan ini pertanyaan itu selalu muncul. Apa ini bentuk penyesalanku ? Atau wujud protesku pada takdir ? Ah, maafkan aku Tuhan. Cinta ini sudah meracuni seluruh sendi-sendi tubuhku. Ampuni aku yang tidak berdaya melawan kepedihan hati. Saat ini selain pasrah, aku percayakan kebahagiaan gadis itu pada-Mu.


bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar