09 Januari 2009

Belum ada judulnya....

Langit tampak cerah. Angin bertiup sepoi-sepoi. Mentari mengintip dari sela-sela dedaunan. Samar-samar hangatnya menyentuh kulit. Andre duduk dengan santai. Jantungnya berdetak seirama. Matanya terpejam. Sejenak, ia merasa nyaman.

”Hangat ya.”

Suara itu membuatnya membuka mata. Andre menoleh. Seorang lelaki, mungkin sebaya dengannya, duduk di sampingnya sambil menengadah ke langit.

”Aku suka matahari. Kuat, perkasa, dan panas. Kamu ?”

Lelaki itu menoleh. Untuk pertama kalinya mereka bertatapan. Wajah lelaki itu pucat dan tirus. Namun Andre takjub melihat matanya. Mata itu begitu hidup, seolah mengalirkan semangat bagi siapa saja yang melihatnya.

”Mendung dan hujan bisa menghilangkan matahari,” jawab Andre.

Lelaki itu tertawa. ”Bukan menghilangkan, cuma menutupi.”

Andre mengerutkan dahi. ”Kamu siapa sih ? Tiba-tiba muncul. Seperti jatuh dari langit saja.”

Lelaki itu tertawa lagi. “O ya, kita belum kenalan. Aku Dani.” Ia mengulurkan tangannya.

Meski masih asing, Andre menjabat tangannya juga. ”Andre.”

“Selamat juga ya”, lanjut Dani.

“Selamat ?” Andre mengerutkan kening. ”Buat apa ?”

”Sebentar lagi kamu sembuh.”

”Apa ?” Andre terhenyak sesaat, sebelum akhirnya tersenyum sinis. ”Sok tahu kamu. Aku sakit apa juga kamu nggak tahu.”

”Aku tahu. Jantung kan ?”

”Wah,” lagi-lagi Andre menerima kejutan. ”Hebat. Sixth sense kamu boleh juga.”

Sixth sense ? Ha ha ha....dukun kali !”

”Lucu banget ya”, komentar Andre dingin.

Dani berhenti tertawa. Ia menoleh dan menatap Andre. ”Sori.”

Andre menghela nafas. Pandangannya menerawang. ”Jantungku ini payah. Harus ganti yang baru. Tapi siapa yang mau kasih ? Nggak ada seorang pun yang berharap dikubur dalam keadaan nggak utuh. Sekarang gimana kalau aku tanya kamu. Mau beri aku jantung supaya aku sehat lagi ?”

”Oke.”

“Apa ?”

”Kubilang, oke.”

”Hah ?”

Mendadak angin bertiup kencang. Andre kaget. Angin kencang itu mebuat pedih matanya. Sambil berusaha melindungi matanya, Andre kembali menoleh ke samping. Tetapi.....tidak ada sosok Dani di sana. Dan tiba-tiba pula angin berhenti bertiup. Andre keheranan. Sudut matanya berkeliling mencari. Namun sosok Dani seperti menghilang ditelan bumi. Andre tak habis pikir. Dalam situasi angin yang kencang begitu masa iya sih dia bisa bergerak cepat ?

”Andre ? masih di sini ? jangan lama-lama lho. Kamu harus banyak istirahat.”

Andre menoleh. ”Eh, suster Ina. Bentar lagi juga saya balik.”

”Oke. Tapi bener ya.”

Andre mengangguk. Suster Ina tersenyum dan beranjak pergi.

”Suster !” panggil Andre tiba-tiba.

Suster Ina berhenti dan berbalik. ”Ya ? Ada apa Andre ?”

”Ngg...”, Andre berpikir sebentar. ”Suster kenal pasien bernama Dani ?”

”Dani ? Dani yang mana ya ?”

“Orangnya agak tinggi, mukanya tirus, dan....kurang lebih seumuran saya.”

“Mmm....Dani....”, Suster Ina tampak berpikir. “Kalau yang seumuran kamu, kalau nggak salah ada 3. Satu cewek, dua cowok. Itu yang di bangsal sini lho, kalau bangsal lain saya nggak tahu.”


bersambung......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar